NJOPTKP DKI dicabut tahun 2025? Potongan Rp60 juta tetap ada
Pergub DKI 22/2025 mencabut aturan NJOPTKP lama, tapi potongan Rp60 juta di PBB kamu tetap ada karena sekarang diatur Perda DKI 1/2024.
Foto: Pexels
- Pergub DKI 22/2025 memang mencabut Pergub 201/2012 tentang NJOPTKP. Berlaku sejak 14 Agustus 2025.
- Potongan NJOPTKP tetap ada. Sekarang diatur di Pasal 33 ayat (4) Perda DKI 1/2024: Rp60 juta per wajib pajak.
- Aturan lama (Pergub 201/2012) hanya Rp15 juta, jadi potongan sekarang lebih besar.
- NJOPTKP hanya untuk satu objek per wajib pajak per tahun pajak.
Pada Agustus 2025, Gubernur DKI menerbitkan Pergub DKI 22/2025 tentang pencabutan Pergub 201/2012. Pergub yang dicabut itu dulu dasar hukum NJOPTKP (Nilai Jual Objek Pajak Tidak Kena Pajak).
Banyak yang mengira potongan Rp60 juta ikut hilang dan tagihan PBB akan naik. Potongan itu tetap ada. Yang pindah hanya dasar hukumnya, dari Peraturan Gubernur ke Peraturan Daerah yang hierarkinya lebih tinggi.
Apa itu NJOPTKP?
NJOPTKP adalah potongan dari NJOP sebelum PBB dihitung. Contoh: NJOP rumahmu Rp500 juta. Setelah dipotong NJOPTKP Rp60 juta, tersisa Rp440 juta. Untuk hunian, angka itu dikali 40% lalu dikali tarif 0,5%. Hasilnya PBB Rp880.000, lebih kecil daripada tanpa NJOPTKP.
Dari Rp15 juta ke Rp60 juta
Pergub DKI 201/2012 ditandatangani Gubernur Joko Widodo dan berlaku sejak 1 Januari 2013. Isinya: NJOPTKP Rp15 juta per wajib pajak.
Lalu terbit UU 1/2022 tentang HKPD. Pasal 40 ayat (3) mengatur NJOPTKP paling sedikit Rp10 juta per wajib pajak. Itu batas minimum nasional. Tiap daerah boleh menetapkan lebih tinggi lewat Perda.
DKI menetapkan angka yang lebih tinggi. Perda DKI 1/2024, yang berlaku sejak 5 Januari 2024, menetapkan NJOPTKP Rp60 juta per wajib pajak (Pasal 33 ayat 4), empat kali lipat dari aturan lama.
Apa yang dicabut Pergub 22/2025?
Pergub DKI 22/2025 ditetapkan Gubernur Pramono Anung pada 11 Agustus 2025 dan berlaku 14 Agustus 2025. Isinya hanya dua pasal:
- Pasal 1 mencabut Pergub 201/2012.
- Pasal 2 mengatur kapan berlakunya.
Tidak ada norma baru di dalamnya.
Alasannya: sejak Perda DKI 1/2024 berlaku, NJOPTKP sudah diatur di level Perda. Pergub 201/2012 jadi tumpang tindih dan bisa membingungkan, apalagi angkanya beda. Pencabutan ini merapikan aturan dan tidak mengubah nilai NJOPTKP yang berlaku bagi wajib pajak.
Tiga lapis aturan NJOPTKP sekarang
| Aturan | Status | Isinya |
|---|---|---|
| UU 1/2022 (HKPD) Pasal 40 ayat (3) | Berlaku, nasional | NJOPTKP paling sedikit Rp10 juta per wajib pajak |
| Perda DKI 1/2024 Pasal 33 ayat (4) dan (5) | Berlaku, DKI | NJOPTKP Rp60 juta per wajib pajak, untuk satu objek |
| Pergub DKI 201/2012 | Dicabut oleh Pergub 22/2025 | NJOPTKP Rp15 juta (2013 sampai digantikan Perda 1/2024) |
Ketiganya selaras. Karena kini ada di Perda, mengubah angka Rp60 juta harus lewat perubahan Perda bersama DPRD, tidak cukup dengan Pergub.
Satu NJOPTKP untuk satu wajib pajak
NJOPTKP dihitung per wajib pajak. Kalau kamu punya dua rumah di Jakarta, potongan Rp60 juta hanya berlaku untuk salah satunya setiap tahun pajak (Pasal 33 ayat 5 Perda DKI 1/2024).
Aturan ini sudah ada sejak Pergub 201/2012 Pasal 3. Di aturan lama, objek yang dapat NJOPTKP ditentukan berdasarkan NIK wajib pajak. Karena itu, pastikan NIK kamu tercatat benar di sistem Bapenda.
Cara cek NJOPTKP di SPPT
SPPT adalah tagihan PBB yang diterbitkan Bapenda DKI setiap tahun. Dari sana kamu bisa lihat apakah NJOPTKP sudah diterapkan. Urutan baris di e-SPPT 2026:
| Baris di e-SPPT | Artinya |
|---|---|
| Bumi dan Bangunan (kolom Total NJOP) | Luas dikali NJOP per meter persegi |
| NJOP Sebagai Dasar Pengenaan PBB-P2 | Jumlah NJOP bumi dan bangunan |
| ( - ) NJOP Tidak Kena Pajak (NJOPTKP) | Potongan Rp60.000.000 kalau NJOPTKP diterapkan |
| NJOP dikurangi NJOPTKP | Sisa setelah potongan |
| NJOP untuk Perhitungan PBB-P2 | Sisa tadi dikali 40% (hunian) atau 60% (selain hunian) |
| PBB-P2 yang Terutang | Dikali tarif, misalnya 0,5% |
| ( - ) Pengurangan/Pembebasan | Insentif tahun berjalan, kalau ada |
| PBB-P2 yang Harus Dibayar | Angka yang ditagih |
- Kalau baris NJOPTKP berisi Rp60.000.000, NJOPTKP sudah masuk.
- Kalau baris itu kosong atau nol, bisa jadi NJOPTKP sudah dipakai di objek lain milikmu.
Persentase 40% untuk hunian dan 60% untuk selain hunian berasal dari Pergub DKI 17/2024 dan juga tertulis di bagian keterangan e-SPPT. Karena itu angka dasar hitungnya jauh lebih kecil dari NJOP.
Kalau belum punya SPPT, kamu bisa mengunduhnya gratis di pajakonline.jakarta.go.id. Langkahnya ada di panduan download SPPT PBB.
SPPT 2025 atau 2026 yang memuat potongan NJOPTKP sudah sesuai aturan. Kalau potongannya tidak muncul padahal kamu hanya punya satu objek, tim kami bisa bantu cek lewat WhatsApp.
Tim JawaraPajak bisa bantu lewat WhatsApp.



