Rekap diskon PBJT hotel dan restoran DKI 2025-2026
Dua keringanan PBJT hotel dan restoran di DKI (Kepgub 722/2025 dan 310/2026) sudah berakhir, dan tarif normal 10% kembali berlaku penuh.
Foto: Pexels
- Pemprov DKI memberi dua keringanan PBJT makanan/minuman dan jasa perhotelan: Kepgub 722/2025 dan Kepgub 310/2026.
- Keduanya sudah berakhir. Kepgub 722/2025 berlaku sampai 31 Januari 2026. Kepgub 310/2026 hanya untuk masa pajak Maret 2026, dengan batas setor 30 April 2026.
- Per 7 Oktober 2026, belum ada keringanan baru untuk sektor ini di Bank Peraturan JawaraPajak. Tarif normal 10% berlaku penuh.
- Keringanan memotong pokok pajak yang disetor. Tarif yang dipungut dari konsumen tetap 10%.
- SPTPD bulanan tetap wajib, ada keringanan atau tidak.
Kalau kamu punya usaha kuliner atau perhotelan di Jakarta, kamu mungkin sempat dapat diskon PBJT antara Agustus 2025 dan Maret 2026. Kedua diskon itu sudah selesai. Untuk masa pajak sekarang, PBJT makanan/minuman dan jasa perhotelan disetor penuh dengan tarif 10%. Kalau ada keringanan baru, keputusannya akan muncul di Bank Peraturan.
Artikel ini merangkum dua keringanan tersebut dan cara kerjanya. Kalau nanti ada keringanan serupa, pola keduanya bisa jadi acuan.
Apa itu PBJT dan siapa yang kena?
PBJT (Pajak Barang dan Jasa Tertentu) dipungut pengusaha dari konsumen, lalu disetor ke kas daerah. Di DKI ada lima sub-jenis: makanan dan/atau minuman, tenaga listrik, jasa perhotelan, jasa parkir, serta jasa kesenian dan hiburan.
Dua sub-jenis yang dapat keringanan:
- Makanan/minuman, yaitu restoran yang menyediakan layanan penyajian (meja, kursi, dan/atau alat makan), serta penyedia jasa boga atau katering (Perda DKI 1/2024 Pasal 45).
- Jasa perhotelan, yaitu hotel, hostel, vila, pondok wisata, motel, losmen, wisma pariwisata, pesanggrahan, guesthouse, resort, rumah pribadi yang difungsikan sebagai hotel, dan glamping (Pasal 47).
Usaha kecil tidak kena PBJT makanan/minuman
Penjualan makanan/minuman dengan peredaran usaha tidak lebih dari Rp42 juta per bulan dikecualikan dari objek PBJT (Perda DKI 1/2024 Pasal 45 ayat 2 huruf a). Pengecualian ini tidak berlaku untuk penjualan insidental.
Tarif normalnya 10%, sesuai Pasal 53 ayat (1) Perda DKI 1/2024.
Kepgub 722/2025: keringanan Agustus sampai Desember 2025
Kepgub DKI 722/2025 ditandatangani Gubernur Pramono Anung pada 25 Agustus 2025. Latar belakangnya kebijakan efisiensi anggaran pemerintah yang menekan permintaan di sektor perhotelan dan kuliner. Dasar kewenangannya Pasal 96 UU HKPD dan Pasal 99 ayat (1) Perda DKI 1/2024.
Besarannya beda per sektor:
- Jasa perhotelan dapat pengurangan 50% untuk masa pajak Agustus sampai September 2025, lalu 20% untuk Oktober sampai Desember 2025.
- Makanan/minuman dapat pengurangan 20% untuk masa pajak Agustus sampai Desember 2025.
Fasilitas ini berlaku sampai 31 Januari 2026.
Syaratnya, wajib pajak harus menyampaikan surat pernyataan bersedia melaporkan data transaksi usaha secara elektronik lewat sistem E-TRAPT milik Pemprov DKI. Tanpa pernyataan ini, pengurangan tidak otomatis berlaku meski masa pajaknya sesuai.
Kepgub 310/2026: keringanan masa pajak Maret 2026
Kepgub DKI 310/2026 ditetapkan 17 Maret 2026. Aturannya lebih sederhana:
- Besaran: 20% dari pokok PBJT
- Cakupan: makanan/minuman dan jasa perhotelan
- Masa pajak: hanya Maret 2026
- Batas setor: paling lambat 30 April 2026
- Mekanisme: otomatis secara jabatan, tanpa permohonan dan tanpa syarat E-TRAPT
Tujuannya mendorong ekonomi selama Ramadan sampai Idul Fitri 1447 H, saat permintaan kuliner dan perhotelan biasanya naik. Dasar kewenangannya Pasal 3 dan Pasal 4 Pergub DKI 27/2025 tentang administrasi dan tata cara keringanan, pengurangan, dan pembebasan pajak daerah.
Kepgub DKI 310/2026 Diktum KESATUMemberikan keringanan pokok pajak barang dan jasa tertentu atas makanan dan/atau minuman dan jasa perhotelan sebesar 20% (dua puluh persen) untuk masa pajak bulan Maret 2026 kepada wajib pajak.
Simulasi: berapa penghematannya waktu itu?
Contoh untuk masa pajak Maret 2026 dengan keringanan 20%:
| Jenis usaha | Dasar pengenaan Maret 2026 | PBJT normal (10%) | Setelah keringanan 20% | Hemat |
|---|---|---|---|---|
| Restoran menengah | Rp150.000.000 | Rp15.000.000 | Rp12.000.000 | Rp3.000.000 |
| Hotel butik (20 kamar) | Rp300.000.000 | Rp30.000.000 | Rp24.000.000 | Rp6.000.000 |
Dasar pengenaan adalah total nilai transaksi yang kena PBJT. Konsumen tetap dibebani 10% seperti biasa. Yang berubah hanya jumlah yang disetor ke kas daerah, jadi selisihnya tetap di kas usahamu.
Perbandingan dua keringanan
| Aspek | Kepgub 722/2025 | Kepgub 310/2026 |
|---|---|---|
| Ditetapkan | 25 Agustus 2025 | 17 Maret 2026 |
| Sektor | Hotel + makanan/minuman | Hotel + makanan/minuman |
| Besaran hotel | 50% (Agt-Sep 2025), 20% (Okt-Des 2025) | 20% |
| Besaran makanan/minuman | 20% (Agt-Des 2025) | 20% |
| Masa pajak | Agustus-Desember 2025 | Maret 2026 saja |
| Mekanisme | Otomatis, dengan syarat E-TRAPT | Otomatis penuh |
| Batas waktu | 31 Januari 2026 | 30 April 2026 (batas setor) |
| Status Oktober 2026 | Sudah berakhir | Sudah berakhir |
Kewajiban yang tetap berjalan
Ada diskon atau tidak, kewajiban ini tetap jalan:
- SPTPD bulanan tetap wajib dilaporkan. Saat ada keringanan, setoran memakai nilai setelah keringanan.
- Pemungutan dari konsumen tetap 10%. Keringanan tidak mengubah tarif di nota.
- Catat transaksi dengan rapi, terutama kalau kamu pakai sistem kasir digital yang terhubung ke E-TRAPT.
- Keringanan hanya berlaku di masa pajak yang disebut. Di luar itu, pokok pajak normal.
Kalau setoran untuk masa pajak Agustus sampai Desember 2025 atau Maret 2026 belum memakai nilai yang benar, konsultasikan ke kantor UPPPD kecamatan setempat atau helpdesk Bapenda DKI Jakarta.
Tim JawaraPajak bisa bantu lewat WhatsApp.

